Kamis, 20 Juni 2013

Pemikiran Politik Al Farabi


A. Biografi al-Farabi
Abu Nashar bin Muhammad bin Mohammad bin Tarkham bin Unzalaqah atau yang lebih dikenal dengan al-Farabi lahir di suatu kota kecil yang bernama Wasij, wilayah Farab,termasuk kawasan Turkistan pada tahun 257 H/870 M, meninggal tahun 339 H/ 950 M. kemungkinan adalah seorang Syiah Imamiyah, ayahnya pindah ke Bagdad ketika menjadi salah seorang pengawal khalifah. Ia belajar filsafat dari sorang Kristen (kemungkinan dari aliran iskandariyah), dan bersahabat dengan seorang penterjemah Kristen Aristotelian, Mata ibn Yunus. Ia tinggal di Bagdad, namun tidak menjadi bagian dari kehidupan istana, birokrasi, atau kelompok itelektual manapun; ia bekerja sendirian Selama periode ini, ia banyak membahas masalah-masalah politik dalam karyanya, ihsâ' al-'ulũm  dan Tahshîl al-Sa'âdah, serta menyusun ringkasan-ringkasan hukum Plato.
Pada tahun 942 M, ia diundang ke istana Imamiyah dari Dinasti Hamdaniyah (Aleppo). Pada periode ini ia berpartisipasi dalam kehidupan istana, sejak 942 M hingga 950 M menyusun karya besarnya tentang politik: (1) al-Madinah al-Fadhilah (Pandangan Utama Penduduk Kota Utama) yang ditulis pada tahun 942-943 di Bagdad dan Damaskus, (2) al-Siyasah al-Madaniyyah (Pemerintahan Negara), mungkin disusun 948-949 di Mesir, (3) Fushul al-Madani (Aforisme-Aforisme Negarawan), mungkin ditulis setelah membaca negarawan karya Plato. Al-Farabi meninggal karena dibunuh oleh perampok dalam sebuah perjalanan.
B. Pandangan Politik: Masyarakat, Negara, dan Pemimpin
Dalam teori asal-usul tumbuhnya kota atau Negara, al-farabi menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang memiliki kecenderungan alami untuk bermasyarakat, karena tidak mungkin mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Adapun tujuan masyarakat itu menurut al-farabi tidak semata-mata untuk memenuhi keperluan asas hidup, tetapi juga untuk menghasilkan kelengkapan hidup yang akan memberikan kebahagian atau kesejahteraan kepada manusia, baik itu material atau yang bersifat spiritual, tidak hanya di dunia tapi juga di akherat nanti.
Menurut Munawir Sjadzali dalam Sirojuddin Aly, al-Farabi memperlihatkan pengaruh keyakinan agamanya sebagai seorang Islam, di samping tidak terlepas dari tradisi Plato atau Aristoteles yang mengaitkan politik dengan moralitas dan akhlak.[1] Sehingga dapat kita ambil sebuah intisari bahwa masyarakat bukanlah merupakan tujuan, tetapi merupakan sebuah perantara untuk mencapai tujuan utama, yaitu tingkat kesempurnaan yang dapat membawa manusia ke kebahagiaan di dunia maupun akherat.


Bentuk Masyarakat 
Al- Farabi membagi bentuk masyarakat menjadi tiga bagian[2], yaitu
  1. Masyarakat Sempurna Besar (Udhma), ialah gabungan dari banyak umat yang (al-Mujtam al-Udhma) yang sepakat saling bergabung dan saling membantu atas kerja sama atau dapat dikatakan bahwa bentuk masyarakat ini adalah perserikatan bangsa-bangsa.
  2. Masyarakat Sempurna Sedang (al-Mujtam al-Wustha), ialah masyarakat yang terdiri dari satu bangsa (umat) yang menghuni di salah satu wilayah dari Bumi atau dapat kita contohkan sebagai negara nasional.
  3. Masyarakat Sempurna Kecil (al-Mujtama al –Sughra), ialah masyarakat yang terdiri dari para penghuni suatu kota, atau dapat dikatakan bahwa masyarakat sempurna kecil adalah negara kota.
Pemikiran tentang Asal-usul Negara dan Warga Negara
Menurut Al-Farabi manusia merupakan warga negara yang merupakan salah satu syarat terbentuknya negara. Oleh karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain, maka manusia menjalin hubungan-hubungan (asosiasi). Kemudian, dalam proses yang panjang, pada akhirnya terbentuklah suatu Negara. Menurut Al-Farabi, negara atau kota merupakan suatu kesatuan masyarakat yang paling mandiri dan paling mampu memenuhi kebutuhan hidup antara lain: sandangpanganpapan, dan keamanan, serta mampu mengatur ketertiban masyarakat, sehingga pencapaian kesempurnaan bagi masyarakat menjadi mudah. Negara yang warganya sudah mandiri dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang nyata, menurut al-Farabi, adalah Negara Utama.
Menurutnya, warga negara merupakan unsur yang paling pokok dalam suatu negara. Keberadaan warga negara sangat penting karena warga negaralah yang menentukan sifat,corak serta jenis negara. Menurut Al-Farabi perkembangan dan/atau kualitas negara ditentukan oleh warga negaranya. Mereka juga berhak memilih seorang pemimpin negara, yaitu seorang yang paling unggul dan paling sempurna diantara mereka. Negara utama dianalogikan seperti tubuh manusia yang sehat dan utama, karena secara alami, pengaturan organ-organ dalam tubuh manusia bersifat hierarkis dan sempurna.
Ada tiga klasifikasi utama:
  • Pertama, jantung. Jantung merupakan organ pokok karena jantung adalah organ pengatur yang tidak diatur oleh organ lainnya.
  • Kedua, otak. Bagian peringkat kedua ini, selain bertugas melayani bagian peringkat pertama, juga mengatur organ-ogan bagian di bawahnya, yakni organ peringkat ketiga, seperti : hati, limpa, dan organ-organ reproduksi. Organ terbawah (organ ketiga) ini hanya bertugas mendukung dan melayani organ dari bagian atasnya.

Kota Utama (al-Madinah al-Fadhilah) [3] 
Pada lingkupnya yang lebih khusus tentang kota ini, al-Farabi sebenarnya memformulasikan gagasan kota idealnya dengan bertumpu pada dua konsep utama.[4] Pertama, konsep tentang pemimpin dan yang dipimpin, atau konsep kepemimpinan. Kedua, konsep kebahagiaan. Penjelasan awal bab khusus tentang al-madinah al-fadilah-nya dalam kitabnyaAs-Siyasah al-Madaniyah cukup memberikan ketegasan perihal hal ini, bahwa manusia hidup memerlukan seorang guide (pemimpin, mualim) untuk menemukan kebahagiaan mereka. Dengan begitu, kerangka dasar yang membangun gagasan al-Madinah al-Fadilah berangkat dari konsep kepemimpinan, di mana untuk dapat membentuk sebuah kota yang sedemikian rupa harus mucul seorang pemimpin yang memiliki keutamaan penuh.
Yamani menyebut pemimpin macam ini sebagai pemimpin tertinggi atau unqualified ruler, penguasa tanpa kualifikasi (Yamani, 2002). Yang kemudian dari konsep ini (kepemimpinan) al-Farabi melilitkan konsep kebahagiaan padanya. Bahwa tujuan manusia menjalani hidupnya adalah untuk meraih kebahagiaan. Dan untuk menghidupkan dua konsep utama ini, al-Farabi memasukkan prasyarat-prasyarat perihal hal ini. Bagaimana misalnya kecenderungan manusia. Bahwa manusia akan selalu mencoba mengarahkan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan.
Selain itu, manusia juga memiliki kecenderungan lain berupa keterikatan mereka dalam sebuah komunitas, seperti yang dikatakan Aristoteles bahwa manusia adalah Zoon Politikon,secara alamiah mereka tidak akan lepas dari kehidupan sosial dan oleh karena itu mereka terus berpolitik untuk bertahan hidup. Agar komunitas ini dapat menjadi sebuah komunitas unggul diperlukanlah seorang pemimpin yang memiliki keutamaan. Mengenai kepemimpinan. Al-Farabi mengkategorikan orang menjadi tiga (Yamani, 2002, hal. 61), pemimpin tertinggi, orang yang memimpin dan dipimpin, dan orang yang sepenuhnya dipimpin. Dan kota utama dipimpin oleh seorang pemimpin tertinggi. Pemimpin macam itu adalah orang yang sempurna secara fisik dan mentalnya (Yamani, 2002, hal. 62). Dalam konsep Sunni derajat pemimpin semacam ini hanya dapat dimiliki oleh seseorang dengan tingkatan Nabi. Meski dalam sejarahnya, kehidupan politik para Nabi pun pada umumnya mengalami sebuah kondisi yang dapat dikatakan dilematis, bahkan hampir semuanya tidak pernah berhasil membentuk sebuah tatanan masyarakat yang ideal dan dengan kecenderungan memiliki umat yang durhaka.
Sampai pada Nabi terakhir, Muhammad SAW, konsep kepemimpinan itu seperti baru menemukan bentuknya. Dengan keberhasilan Muhammad SAW menyatukan masyarakat Arab, agaknya dapat disebut bahwa apa yang Muhammad SAW bentuk adalah sebuah kota utama di bawah kepemimpinannya. Dengan begitu pada dasarnya setiap Nabi memiliki potensi yang sama untuk membangun sebuah kota ideal, dengan kualitas yang mereka miliki. Dan sekali lagi, satu-satunya Nabi yang berhasil mengaktualkan potensi itu adalah Muhammad SAW.
Sedang dalam pandangan Syiah, kualitas pemimpin yang dapat membentuk sebuah kota utama, tidak hanya pada level para Nabi tetapi juga Imam-imam, yang meski dalam sejarah belum terbukti bahwa ada seorang Imam yang dapat membentuk sebuah kota utama. Namun, pada kepercayaan mereka, kota utama itu pada masanya nanti akan dapat dibentuk oleh Imam Mahdi (Muhammad al-Mahdi al-Muntazar, Imam terakhir mereka). Menurut al-Farabi, ketika sebuah kota utama terbentuk, tugas para pemimpin ini adalah mengatur jalannya aktivitas penduduknya agar tetap pada kapasitas masing-masing. Agar asosiasi yang tercipta pun berjalan harmonis. Dengan begitu dalam sebuah kota utama, spesialisasi penduduknya memang harus ada dan seorang pemimpin harus dapat mengatur ini dengan baik. Tujuan kota utama adalah kebahagiaan. Baik secara individual maupun komunal, kota utama harus memberikan kebahagiaan bagi penghuninya. Pemimpin dalam kota ini memiliki tugas untuk membimbing dan menunjukkan warganya pada kebahagiaan itu.
Syarat-Syarat Pemimpin Negara Utama
Pemimpin negara utama menurut al-Farabi adalah seorang imam (pemimpin), kepala negara yang memiliki kelebihan, pemimpin yang dapat membangun negaranya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pemimpin maka harus memenuhi 12 kriteria, yaitu:
1.      Sempurna seluruh anggota badannya.
2.      Baik daya pemahaman dan pemikiran, serta kuat daya ingatnya.
3.      Tinggi intlektualitasnya.
4.      Pembicaraannya mudah dimengerti, tidak berbelit-belit.
5.      Pecinta pendidikan dan menyukai pengembangan ilmu.
6.      Tidak rakus dalam hal makanan, minuman, dan wanita.
7.      Pecinta kejujuran, kebenaran dalam jucapan dan prilaku dan membenci kebohongan.
8.      Berwibawa, Berjiwa besar dan berbudi luhur.
9.      Tidak memandang penting kekayaan dan kesenangan duniawi; semuanya itu dianggap sebagai fasilitas.
10.  Pecinta keadilan dan pembenci perbuatan zalim.
11.  Tidak sukar untuk diajak menegakkan keadilan, tetapi sulit untuk menyetujui tindakan keji dan kufur.
12.  Kuat pendiriannya (memiliki komitmen tinggi) terhadap hal-hal yang menurutnya harus dikerjakan, tanpa ada rasa takut atau berjiwa lemah dan kerdil.[5]



DAFTAR PUSTAKA

Buku-Buku dan Diktat

Aly, Shirojuddin. 2010. Diktat Mahasiswa FISIP UIN Pemikiran Politik Islam 1. Jakarta : Pribadi.
Black, Antony. 2006. Pemikiran Politik Islam Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini. Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta.
Rosenthal, Franz. 1996. Etika Kesarjaan Muslim: Dari Al Farabi Hingga Ibn Khaldun. Bandung : MIZAN.

Internet
(http://poetraboemi.wordpress.com/2009/03/28/pemikiran-politik-alfarabi/: diakses pada Jum'at, 3 Desember 2010, pukul 20.00 wib).
(http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Farabi: diakses pada Jum'at, 3 Desember 2010, pukul 20.15 wib).
(http://koran.republika.co.id/berita/122/Etika_Politik_dalam_Islam: diakses pada jum'at, 3 Desember 2010, pukul 20.30 wib)
[1] Munawir Sjadli dalam Sirojudin Aly, Diktat Pemikiran Politik Islam 1, (Jakarta, 2010), hal. 68.
[2] Muhammad Jalal Syaraf dan Ali Abdul Mu'thi, al-fikr al-Siyasi al-Islam, hal. 256-257.
[3] Jejak pemikiran al-Farabi, tentang kota utama, sebenarnya dapat kita temukan padaRepublic karya Plato. Istilah dan konsep kota yang digagas keduanya mirip, bahkan dapat dikatakan identik. Al-Farabi menyebut kota impiannya itu sebagai al-Madinah al-Fadilah.Sedangkan Plato menyebutnya Kallipolis (kota yang cantik atau fair), Joseph Losco dan Leonard William, Political Theory; Kajian Klasik dan Kontemporer, ter. Haris Munandar, Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2005, hal. 144
[4] Al-Farabi, as-siyasah al-Madaniyah, Darwa Maktabah al-hilal, hal 86.
[5] Munawir Sjadli, Islam dan Tata Negara, hal. 52.


Jhon Adam Smith – Teori Ekonomi Klasik



Paper Kajian Sangkakala 12 Juni 2013
Penyaji      : Abdul Harits

TEORI EKONOMI KLASIK
Aliran klasik muncul pada akhir abad ke 18 dan permukaan abad ke 19 yaitu di masa revolusi industri dimana suasana waktu itu merupakan awal bagi adanya perkembangan ekonomi. Pada waktu itu sistem liberal sedang merajalela dan menurut aliran klasik, ekonomi liberal itu disebabkan oleh adanya pacuan antara kemajuan teknologi dan perkembangan jumlah penduduk. Mula-mula kemajuan teknologi lebih cepat dari pertambahan jumlah penduduk, tetapi akhirnya terjadi sebaliknya dan perekonomian akan mengalami kemacetan.
Kemajuan teknologi mula-mula disebabkan oleh adanya akumulasi kapital atau dengan kata lain kemajuan teknologi tergantung pada pertumbuhan kapital. Kecepatan pertumbuhan kapital tergantung pada tinggi rendahnya tingkat keuntungan, sedangkan tingkat keuntungan ini akan menurun setelah berlakunya hukum tambahan hasil yang semakin berkurang (low of diminishing returus) karena sumber daya alam itu terbatas.
Teori-teori perkembangan dari beberapa pengamat aliran klasik, diantaranya adalah
1.    Francois QuesnayJohn Locke 
2.    Adam Smith
3.    David Ricardo
4.    Thomas Robert Malthus
5.    John Stuart Mill 
6.    Lord Keynes 
7.    David Hume 

A.      Pendahuluan
John Adam Smith lahir di Kirkcaldy, Skotlandia, 5 Juni 1723  dan meninggal di Edinburgh, Skotlandia, 17 Juli 1790 pada umur 67 tahun , adalah seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern. Karyanya yang terkenal adalah buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (disingkat The Wealth of Nations) adalah buku pertama yang menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa serta dasar-dasar perkembangan perdagangan bebas dan kapitalisme. Adam Smith adalah salah satu pelopor sistem ekonomi Kapitalisme. Sistem ekonomi ini muncul pada abad 18 di Eropa Barat dan pada abad 19 mulai terkenal di sana.
Kemakmuran Negara (Wealth of Nations) dan yang lebih kecil pengaruhnya Teori Moral Sentimen, telah menjadi titik awal untuk segala pertahanan atau kritik atas bentuk kapitalisme yang terpenting dalam tulisan Marx dan ekonomi manusia. Karena kapitalisme laissez-faire seringkali dihubungkan dengan keegoisan tak terkontrol, ada gerakan baru yang menekankan filosofi moral Smith, dengan fokus simpati kepada seseorang.
Ada beberapa kontroversi tentang keaslian Kemakmuran Negara Smith; beberapa orang menyangkal hasil kerjanya hanyalah tambahan biasa kepada kerja pemikir seperti David Hume dan Baron de Montesquieu. Dan, banyak teori-teori Smith hanya menggambarkan trend sejarah menjauh dari mercantilisme, menuju perdagangan-bebas, yang telah berkembang selama beberapa dekade, dan telah memiliki pengaruh yang nyata dalam kebijakan pemerintah. Namun begitu, buku ini mengorganisasi pemikiran-pemikiran mereka secara luas, dan tetap menjadi suatu buku yang paling berpengaruh dan penting dalam bidangnya sekarang ini.

B.       Karakter Pribadi dan Pandangan-Pandangan
Sangat sedikit yang diketahui tentang Adam Smith selain dari apa yang bisa dideduksi dari karya-karyanya yang sudah diterbitkan. Semua paper pribadinya sudah dihancurkan setelah kematiannya. Dia tidak menikah dan sepertinya mempertahankan hubungan dekat dengan ibunya, di mana dia tinggal setelah pulang dari Perancis dan mendahului kematian Smith hanya 6 tahun berselang. Kesaksian kontemporer menjelaskan Smith sebagai eksentrik tetapi intelektual yang dermawan dan ramah, kepikunan yang komikal, dengan kebiasaan yang berulang tentang pidato dan memberi senyuman yang "ramah tanpa ekspresi.” Kesabarannya disebut memiliki nilai penting dalam pekerjaannya sebagai administrasi Glasgow. Setelah kematiannya ditemukan bahwa sebagian besar pendapatannya disumbangkan secara rahasia olehnya.
Telah terjadi beberapa debat terhadap pandangan relijius dari Adam Smith. Ayahnya memiliki ketertarikan besar pada Kekristenan  dan merupakan sayap moderat dari gereja Skotlandia (gereja nasional di Skotlandia sejak 1690). Smith mungkin pergi ke Inggris untuk meniti karier di dalam Gereja Inggris: pernyataan ini kontroversial dan bergantung pada status eksibisi Snell. Di Oxford, Smith menolak Kristen dan dipercaya kalau dia pulang ke Skotlandia sebagai Deis
Ekonom Ronald Coase, bagaimanpun, telah menantang pandangan kalau Smith merupakan seorang Deist, menyatakan bahwa, ketika Smith mungkin dihubungkan sebagai "Arsitek Besar Alam Semesta", sarjana lain telah "jauh melebih-lebihkan perluasan sampai di mana Adam Smith telah memasuki sebuah keyakinan dalam sebuah Tuhan Pribadi". Dia mendasari analisis ini dari sebuah remark dalam The Wealth of Nations di mana Smith menulis kalau keingintahuan umat manusia tentang "fenomena luarbiasa dari alam" seperti "generasi, kehidupan, pertumbuhan dan kematian dari tanaman dan binatang" telah membuat manusia untuk "memasukkannya dalam akal sehat mereka". Coase mencatat observasi Smith di mana: "Takhayul pertama-tama ditujukkan untuk memenuhi keingintahuan, dengan menghubungkan semua penampakan menakjubkan pada agensi tentang Tuhan". Bagaimanapun, kepercayaan ini tidak bertentangan dengan Deisme, sebuah sistem kepercayaan yang memegang ide sekptis tentang Tuhan pribadi.

C.      Karya
Tidak lama sebelum kematiannya Smith menghancurkan nyaris semua manuskrip miliknya. Pada tahun terakhirnya dia sepertinya telah merencanakan dua keterilmuan besar, satu dalam teori dan sejarah hukum dan satu dalam ilmu sains dan kesenian. Terbitan setelah kematiannya Essays on Philoshopical Subjects (1795) mungkin berisi bagian dari apa yang akan menjadi pembelokan selanjutnya.
The Wealth of Nations menjadi berpengaruh karena telah dengan keras membuat bidang ekonomi dan perkembangannya ke dalam disiplin yang sistematis dan berdiri sendiri. Dalam dunia barat, masih dibincangkan kalau ini merupakan buku paling berpengaruh dalam subyek tersebut yang pernah diterbitkan. Ketika buku tersebut menjadi manifestasi klasik melawan merkantilisme (teori di mana cadangan besar dari logam mulia merupakan keharusan bagi suksesi ekonomis), muncul pada tahun 1776, ada kesadaran kuat untuk perdagangan bebas baik di Inggris maupun Amerika. Perasaan baru ini telah dilahirkan dari kesusahan keadaan ekonomi dan kemiskinan yang diakibatkan oleh Perang kemerdekaan Amerika. Bagaimanapun, pada saat publikasinya, tidak semua orang lantas yakin pada kelebihan perdagangan bebas: publik dan parlemen di Inggris masih memakai sistem merkantilisme untuk beberapa tahun kedepannya.
The Wealth of Nations juga menolak pernyataan Psiokrat dalam pentingnya lahan, malah, Smith percaya bahwa buruh merupakan proritas tinggi, dan pembagian buruh akan berakibat pada kenaikan signifikan pada produksi. Smith memakai contoh dengan pembuatan jepitan. Satu pekerja bisa membuat duapuluh pin sehari. Tapi jika sepuluh orang dibagi menjadi delapanbelas langkah yang diperlukan membuat sebuah jepitan, mereka bisa membuat 48.000 jepitan dalam sehari. Nations sangat sukses, dan faktanya, hal ini mengakibatkan pengosongan sekolah ekonomi yang lebih tua dan ekonom lebih muda, seperti Thomas Malthus dan David Ricardo, fokus dalam memperbaiki teori Smith ke dalam apa yang akan dikenal sebagai ekonomi klasik. Baikekonomi modern dan, secara terpisah, ekonomi Marxisan bergantung sekali pada ekonomi klasik. Malthus mengembangkan ruminasi Smith dalam overpopulasi, sedangkan Ricardo percaya pada "hukum besi upah" - di mana ledakan populasi bisa mencegah upah melewati tingkat yang rasional. Smith memberi solusi pada kenaikan upah dengan kenaikan produksi, pandangan yang dianggap lebih akurat sekarang ini.
Satu dari poin utama The Wealth of Nations adalah pasar bebas, ketika penampilannya kacau dan tidak teratur, sebenarnya dipandu untuk membuat nilai yang benar dan bermacam barang oleh "tangan-tangan tak terlihat" (sebuah imej yang dipakai Smith dalam Teory of Moral Sentiments, tetapi pertama kali dipakai dalam esai miliknya, "Sejarah Astronomy"). Jika sebuah kelangkaan produk terjadi, misalnya, maka harganya naik, membuat marjin keuntungan yang membuat insentif bagi yang lain untuk masuk ke produksi tersebut, dan mengatasi kelangkaan. Jika terlalu banyak produsen yang msauk ke pasar, kompetisi yang meningkat di antara para manufaktur dan kenaikan penawaran akan menurunkan harga di produk tersebut sampai titik di mana harga produksinya, harga natural. Bahkan jika keuntungan sampai kosong pada "harga natural", maka akan ada insentif untuk memproduksi barang dan jasa, dan semua ongkos produksi, termasuk kompensasi untuk buruh pemilik, juga dimasukkan dalam harga barang jual. Jika harga jatuh di bawah keuntungan kosong, produsen akan keluar dari pasar, jika mereka berada di atas keuntungan kosong, produsen akan masuk ke pasar. Smith percaya kalau motif manusia seringkali egois dan tamak, kompetisi dalam pasar bebas akan bertujuan menguntungkan masyarakat seluruhnya dengan memaksa harga tetap rendah, di mana tetap membangun dalam insentif untuk bermacam barang dan jasa. Selain itu, dia cemas akan pebisnis dan melawan formasimonopoli.
Smith dengan keras menyerang pembatasan antik oleh pemerintah di mana dia pikir batasan tersebut memundurkan ekspansi industri. Faktanya, dia menyerang hampir semua bentuk intervensi pemerintah dalam proses ekonomi, termasuk tarif, berpendapat bahwa hal tersebut membuat inefisiensi dan harga tinggi pada jangka panjang. Teori ini kemudian dikenal dengan "laissez-faire", yang berarti "biarkan mereka lakukan", memengaruhi legislastif pemerintah pada tahun-tahun berikutnya, khususnya selama abad ke 19. (Bagaimanapun dia tidak melawan pada pemerintahan. Smith menganjurkan edukasi publik bagi orang dewasa miskin, sistem institusional yang tidak non laba untuk industri swasta, judisiari, dan pasukan berdiri).

D.      Pengaruh
The Wealth of Nations salah satu usaha terawal untuk mempelajari bangkitnya industri dan perkembangan ekonomi di Eropa, merupakan pengawal ke disiplin akademis modern dari ekonomi. Ini memberi salah satu rasional intelektual paling dikenal untuk perdagangan bebas dan kapitalisme, memengaruhi secara luas tulisan ekonom selanjutnya.
Ada beberapa kontroversi atas perluasan dari keaslian Smith dalam Wealth of Nations. Beberapa berpendapat kalau karya tersebut menambah hanya sedikit dari ide yang sudah ada sebelumnya dari Anders Chydenius (The National Gain 1765), David Hume dan Baron de Montesquieu. Sebenarnya, banyak dari teori Smith hanya menjelaskan tren sejarah dari merkantilisme dan menuju perdagangan bebas di mana telah dikembangkan selama beberapa dekade dan memiliki pengaruh signifikan dalam kebijakan pemerintah. Bagaimanapun, karya Smith merangkum ide mereka secara komperhensif, dan juga menjadi salah satu buku paling berpengaruh dan penting saat ini dalam bidang ekonomi.
Smith berada di peringkat 30 di Daftar orang paling berpengaruh-nya Michael H. Hart.
Dari 13 Maret 2007 ke sana potret Smith muncul dalam £ 20 baru. Dia merupakan orang Skotlandia pertama yang ditampikan dalam mata uang tersebut oleh Bank of England. Gambar dari nota ini tersedia di website Bank of England.
Pada 25 Juni 2006, di mana Warren Buffet mengumumkan kalau dia akan menyumbangkan kekayaannya ke The Bill and Melinda Gates Foundation, dia dihadiahi salinan dari Wealth of Nations Adam Smith oleh Bill Gates. Adam Smith merupakan insipirasi dari grup konservatif dari Missouri, Adam Smith Foundation

E.       Karya Besar
ü The Theory of Moral Sentiments (1759)
ü Essays on Philosophical Subjects (diterbitkan setelah 1795)
ü Lectures on Jurisprudence (diterbitkan setelah 1976)