Kamis, 20 Juni 2013

Ali Syari_ati

Oleh: Caryono


A.    Pendahuluan
Setiap pembaharuan dalam Islam tidak pernah bisa dilepaskan dari persoalan sosial-politik dimana Islam tersebut menginjakkan kaki. Ketika Islam menempati ruang dan waktu yang berbeda maka muncullah interpretasi yang berbeda pula mengenai Islam itu sendiri. ketika Islam mulai di jamahkan terhadap suatu pemerintahan atau sebuah kepemimpinan maka masalah-masalah yang muncul misalkan seperti apakah sistem pemerintahan yang akan digunakan, bagaimanakah posisis Islam dalam sebuah pemerintahan atau kepemimpinan, dan bahkan siapakan sebenarnya yang berhak memimpin Islam.
Melihat persoalan di atas kita sudah dapat melihat konsekuensi yang muncul dengan berbagai corak akibat dari beranika ragamnya interpretasi terhadap Islam. Kalau kita perhatikan  mulai dari pembaharuan yang terjadi di Mesir sampai dengan Pakistan, ternyata para tokoh pembaharu mempuanyai cara masing-masing untuk melakukan pembaharuannya.
Begitupun degan revolusi yang terjadi Iran. Ketika berbicara revolusi di Iran maka tidak bisa dilepaskah dari beberapa tokoh yang refolusioner dan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi keadaan Iran sekarang. Salah satunya ialah Imam Khomaini dan Ali Syari’ati dimana yang akan menjadi pemabahasan kita kali ini. Baik mengenai ideologi maupun gerakannya yang dilakukan untuk revolusi Iran.
B.     Latar Belakang Politik di Iran
            Pemikiran Pembaharuan di Iran yang nantinya akan menjadi suatu gerakan revolusi yang melibatkan para intelektual dan ulama Iran dalam menggagas ideolgi ke-Islaman yang sangat berpengaruh dalam perkembangan revolusi Islam di Iran, serta bagamaina gerakan yang berbasis keagamaan (Islam) dapat membuat suatu tatanan pemerintahan yang memasukan ajaran dan nilai Islam dalam terbentuknya Negara yang bernama Republik Islam Iran (RII). Namun, sebelum menjelaskan pemikiran-pemikiran serta tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam gerakan revolusi, serta bagaimana tatanan pemerintah Republik Islam Iran, maka dalam tulisan ini akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai faktor yang melatarbelakangi terjadinya revolusi. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya revolusi Islam di Iran. Salah satu faktor terpenting adalah kekuasaan yang berkuasa ketika itu, yakni Dinasti Pahlawi. Reza Pahlawi dan Muhammad Reza Pahlawi adalah pemimpin dari dinasti tersebut.
            Dimulai dengan Syah Reza Pahlawi yang dilahirkan pada tahun 1866 di daerah Mazandaran dekat Laut Kaspi (Iran). Di masa kecilnya, ia tidak pernah bersekolah sehingga membuat ia tidak bisa membaca dan menulis. Namun, di usia empat belas tahun ia masuk Brigade Kosak Iran (sekolah militer) yang menjadikanya seorang prajurit.[1] Selama menjadi prajurit, ia sangat serius belajar membaca dan menulis, dan juga pastinya ia sangat medalami ilmu kemiliteran.[2] Ketika itu Iran yang dipimpin oleh Dinasti Qajar mengalami kelemahan sehingga menggugat semangat pembaharuan yang salah satu tokohnya adalah Sayyid Ziya’uddin Tabatabai. Pada 21 Pebruari 1921 Syah Reza Pahlawi membawa pasukannya dari Qazwin (barat laut Iran) memasuki Teheran yang dibantu dengan kekuatan Inggris serta dukungan dari tokoh pembaharu yakni Tabatabai lalu melakukan kudeta. Dampak dari kudeta tersebut, menjadikan Tabatabai sebagai Perdana Menteri sementara (22 Pebruari 1921 – awal juni 1922), serta Syah Reza Pahlawi sebagai Menteri Peperangan (22 Pebruari 1921 – 28 Oktober 1924) dan Panglima Angkatan Perang Iran.[3] Pada 28 Oktober 1924, Syah Reza diangkat menjadi Perdana Menteri. Melalui Dewan Konstitusi, secara resmi Syah Reza diangkat sebagai Syah Iran pada 25 April 1926.[4] Di masa kekuasaannya, Syah Reza Pahlawi membuat kemajuan besar di Negara Iran.
Muhammad Reza Pahlawi dilahirkan pada 26 Oktober 1919 di Tehran (Iran). Bersamaan dengan penobatan ayahnya yakni Syah Reza Pahlavi pada 25 April 1926 sebagai raja pertama Dinasti Pahlawi, ia pun juga diangkat sebagai putra mahkota pertama. Dan seorang wanita Prancis bernama Arfa menjadi pengasuhnya dimasa kanak-kanak. Ia masuk sekolah pada usia enam tahun dan tamat pada tahun 1931. Dan ia pun dikirim ke Swiss untuk melanjutkan pendidikannya serta didampingi seorang walinya yang bernama Dr. Moadeb Nafici. Menurut pendapat Syah Mohammad Reza sendiri seperti yang dikutip dari buku Lintasan Sejarah Iran, ia mengungkapkan masa belajarnya adalah “masa yang sangat penting bagi saya. Lingkungan demokrasi Barat membentuk karakter saya sehingga pengaruhnya hanya kedua setelah pengaruh ayah saya”.[5]
Pada 16 September 1941, Mohammad Reza Pahlawi naik tahta menggantikan ayahnya menjadi seorang raja di Dinasti Pahlawi. Di awal masa jabatan barunya menjadi Syah Iran, salah satu langkah awal yang dilakukannya adalah melarang semua kegiatan partai politik. Pada saat itu ada beberapa partai penting, yakni; Partai Tudeh, Partai Eradeye Melli, Partai Edalat, Partai Iran, Partai Demokrasi Azerbaijain dan Kurdistan, dan Partai Demokrasi Iran.[6] Di masa kekuasaan Syah Muhammad Reza banyak sekali konflik yang terjadi di dalam tubuh pemerintahan Iran. Perdana Menteri ketika itu Muhammad Mosaddeq yang mendukung nasionalisai minyak, Banyak mengkritik kebijakan yang dilakukan oleh Syah dikarenakan Syah ingin meliberalisasikan minyak Iran kepada pihak sekutu khusus kepada pihak Amerika. Seperti diketahui Amerika banyak membantuk pembangun Iran pada masa Dinasti Pahlevi. Ketika Mosaddeq (Augustus 1951-Agustus 1953) menjabat sebagai Perdana Menteri, partai-partai politik mendapatkan kebebasan bergerak kembali.[7] Namun, Mosaddeq berhasil digulingkan oleh Syah dengan bantuan CIA, dan Perdana Menteri digantikan oleh Jenderal Fazlollah Zahedi.
Ketika Perdana Menteri dijabat oleh Asadollah Alam (diangkat 19 Juli 1962), melalui kabinetnya, Asadollah membuat rencana undang-undang pembentukan dewan provinsi dan dewan kota. Dalam rencana undang-undang tersebut disebutkan bahwa anggota dewan tidak mesti disumpah dengan al-Qur’an. Melihat permasalahan ini, ulama di Qum menentang keras terhadap rancangan undang-undang tersebut.[8] Imam Khomeini yang merupakan mujtahid tertinggi di kalanga Syi’ah mengirim surat kepada Perdana Menteri Asadollah yang isinya menentang undang-undang itu dan untuk pertama kalinya ia mempenringatkan bahaya Zionis dalam pemerintahan. Imam Khomeini juga mengajak rakyat bangkit menentang pemerintahan yang banyak melakukan kezaliman terhadap rakyat Iran. Dan pada akhirnya Perdana Menteri Asadollah menyerah terhadap tuntutan ulama, dan tuntutan rakyat.[9] Hingga pada suatu saat ketika pembagian tanah di Qum, Syah menyatakan bahwa “dua pemimpin agama” (Imam Khomeini dan Ayatullah Qumi) adalah “reaksioner hitam”.[10]

1.        Gerakan yang Memicu Revolusi
Ada beberapa hal yang memicu pergerakan hebat di kalangan ulama dan rakyat yang mengkritik keras pemerintahan Syah ketika itu, salah satunya adalah diterbitkannya artikel yang berjudul “Iran dan Kolonialisme Merah dan Hitam Persia” di dalam surat kabar Iran Et-Tela’at yang didukung oleh pemerintah Syah, pada Sabtu sore 7 Januari 1978 menyebutkan tentang seorang asal India, agen Inggris, yang di Iran mengaku Ayatullah dan Sayyid (cucu rasul). Dan dikatakan pula Ayatullah tersebut melakukan perilaku menyimpang. Namun, rakyat tahu bahwa yang dimaksudkan tersebut ialah Imam Khomeini. Menurut para ulama dan rakyat, Syah telah melakukan fitnah terhadap para ulama, dan ini menyebabkan kemarahan rakyat. Terkait atas artikel yang dianggap fitnah tersebut, keesokan harinya rakyat berkumpul di Masjid dan mengumandangkan slogan “Salawat atas Khomeini” dan “Mampuslah Pemerintah Pahlavi”.[11] Pada 7 September 1978, Syah memerintahkan para pasukannya untuk menyerang para demonstran yang bertempat di Lapangan Syuhada’ (sebelumnya bernama Lapangan Zhalah) yang menewaskan sekitar 4.280 orang.[12]
Melihat kondisi Iran yang semakin panas dan tidak kondusif lagi bagi Syah untuk bertahan disana, maka Syah memutuskan untuk pergi meninggalkan Iran pada tanggal 16 Januari 1979.[13] Pemerintah semenjak kepergian Syah dipimpin oleh Perdana Menteri Shapour Bakhtiar, namun kepemimpinan Bakhtiar tersebut ditolak oleh Imam Khomeini.

2.         Pembentukan Dewan Revolusi
Pada 12 Januari 1979 telah dibentuk Dewan Revolusi Islam yang para anggotannya terdiri dari; Ayatullah Dr. Behesyti, Ayatullah Murtadha Muthahari, Hashemi Rafsanjani, Ayatullah Musawi Ardabilli dan Ayatullah Dr. Bahonar. Pembentukan Dewan Revolusi Islam ini dimaklumi dan disetujui oleh Imam Khomeini. Dan pada 1 Pebruari 1979 Imam Khomeini tiba di Iran dan lansung menuju pemakaman Behesyti Zahra dari pengasingannya di Perancis.[14]
1.      Ali Syari’ati
a.      Biografi Singkat
Ali Syariati di lahirkan pada tanggal 24  November 1933 di sebuah desa keci di Kahak, sekitar 30 kilometer dari Zabzevar.  Dia terlahir dari pasangan Muhammad Taqi dan Zahra. Ali Syariati adalah anak pertama yang sekaligus seorang laki-laki dari ketiga saudara permpuannya. Mereka adalah keluarga yang sangat sederhana, namun kendati demikian keluarga tersebut mendidik Ali Syari’ati dengan keimanan religious. [15]
Dari sejak pendidikan dasar sampai uneversitas dia tidak dikenal sebagai seorang yang inteltual bahkan dia di anggap sebagai pemalas karena tidak terlalu tertarik untuk mendalami materi-materi yang di sajikan dimana tempat ia belajar. Tetapi dalam konsi seperti itu ia adalah seorang yang rajin membaca namun apa yang baca bukanlah seperti apa yang dia temuai di tempat ia belajar setiap hari.[16]
Sekali lagi kendatipun ia dikenal sebagai seorang yang tidak banyak mencatat prestasi di masa ia menempuh pendidikan, namun ketila memasuki ambang dewasa sudah sangat banyat buku yang telah selesai dia baca.  Dari semenjak dia menempuh pendidikan di sekolah dasar sampai dia melanjutkan pendidikannya di Paris pada tahun 1959 dia sudah melahap banyak buku baik dari barat maupun dari timur, yang buku-buku tersebut bercorak  sufisme, filosofis, sastra dan politik.[17] Bahkan barang kali dengan kondisi sosial-politik yang dia saksikan sejak kecil sampai dewasa semakin menumbuhkan keinginannya untuk semakin tertarik terhadap pemahaman yang memdalam tentang politik. Barang kali ini pulalah yang membuat semangatnya berkobar sehinnga mengantarkan dia  menjadi seorang pemikir revolusionir yang di kenal sampai saat ini.
b.      Islam “Agama Protes”
       Sebenarnya pemahaman tentang konsep ini merupakan penegasan terhadap pemahan tentang adanya kepemimpinan akhir zaman yang akan meminpin manusia di seluruh dunia. Ia merupakan sebuah keyakinan akan adanya sang juru selamat yang akan menjadi jalan keluar bagi ketertindasan manusia. Ia adalah kenyataan yang akan membawa Islam kepada puncak kejayaan. Inilah yang di maksud dengan konsep al-intidzar atau “yang ditunggu”. Dialah seorag Imam pemimpin seluruh umat dunia menurut kepercayaan meraka adalah sesosok pemimpin yang akan melepaskan keterbelengguan manusia dari kegelapan yang hal ini merupakan harapan dan sebuah kenyataan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia di muka bumi.
       Dari pengantar di atas kita akan mengetahui dari manakah pemikiran Ali Syari’ati akan di mulai dan apakah tujuannya. Tetapi ternyata Ali Syari’ati tidak sekedar memahami konsep tersebut sebagai sebuah penantian yang tanpa makna. Ali Syari’ati tidak sekedar memaknai al-intidzar sebagai sebagai sebuah harapan manusia yang dimaknai hanya sekedar penatian belaka, tetapi lebih dari itu merupakan upaya bagaiman manusia mampu mencapai harapan yang ditunggu tersebut.[18]
       Mereka yakin bahwa pada saat sekarang ini Imam al-intidzar tersebut masih dalam keadaan ghaibat.[19] Dalam keadaan ini maka diperlukan wakil-wakil Imam yang dipilih secara khusus. Yang berhak memilih hanyalah para Ulama yang benar-benar ahli dalam bidang fikih secara mendalam dan mengetahui permasalahan umat.[20] Lebih lanjut Ali Syari’ati menjeskan bahwa dalam masa ini Islam tebagi ke dalam dua macam, yaitu Islam sebagai budaya dan Islam sebagai Ideologi. Nantinya Islam yang macam kedua inilah yang akan melahirkan pandangan progresif serta setapak demi setak akan mengikuti perkembangan modern. Namun Islam sebagai ideology harus dikaji dari al-Quran dan sejalan dengan kehidupan Nabi.[21]
        Ali Syaria’ati memberikan interpretasi terhadap al-intidzar sebagai panadanga menuju masa dapan. Menurutnya pandangan terhadap masa depan merupakan salah satu cara agar manusia bisa keluar dari keterkungkungan dan kebekuan.[22]
        Barangkali konsep inilah yang memdasari wacana gerakan dan pemberontakan Ali Syaria’ti terhadap kepemimpinan Syah Muhammad Reza Pahlevi. Dalam gerakannya Ali Syari’ati meluncurkan ceramah-ceramah kepada berbagai kalangan yang dijalankan pada moment-moment tertentu antara tahun 1991-1992.[23] Revolusi yang diinginkan oleh Ali Syari’ati adalah revolusi politik keagamaan.[24]
C.    Penutup
       Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan mengenai pembaharuan di Iran. Dapat disimpulkan bahwa berdirinya Republik Islam Iran sekarang ini di dasarkan kepada penegakan Negara Islam dan Hukum Islam, dimana pemerintahan merupakan pemerintahan Tuhan yang diwakilkan kepada para imam atau para wali sebagai pengganti  atau khalifah Tuhan. Maka dengan inilah Republik Islam Iran bisa dikategorikan ke dalam sistem pemerintahan “teodemokrasi”.
       Selasnujutnya kritik dan saran kami harapkan dari segenap pembaca. Apabila bisa ditarik sebuah pengetahuan dari apa yang telah kami paparkan semuga bemamfaat bagi kita semua.




[1] Muhammad Hasyim Assagaf, Lintasan Sejarah Iran; Dari Dinasti Achaemenia sampai Revolusi Islam (Jakarta: The Cultural Section of Embassy of The Islamic Republik of Iran, 2009). h. 440.
[2] Kemungkinan ia belajar politik di Brigade Kosak Iran. (penulis).
[3] Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 449.
[4]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 441.
[5]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 462.
[6]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 466.
[7]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 471.
[8] Qum merupakan kota pusat pergerakan dan kajian Islam di Iran (Penulis).
[9]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 491.
[10]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 495.
[11]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 547-548.
[12]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 561.
[13]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 596.
[14]Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 605-606.
[15]Ali Rahnema, Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelaktual Revolusioner. Penerjemah Dien Wahid (Jakarta: Erlangga, 2002), h. 53-55.
[16] Ali Rahnema, Ali Syari’ati, h. 59-69.
[17] Ali Rahnema, Ali Syari’ati, h. 69-73.
[18] Hal ini dapat di simpulkan karena pada kenyataannya yang saya temukan pandangan Syari’ati terhadap al-intidzar  merupakan interpretasi yang berbeda dibandingkan dengan pemahaman Syi’ah tradisional (pen.)
[19] Dalam kepercayaan Syi’ah ghibat itu dimulai kira-kira sejak abad ke-3 H., dan ghaibat tersebut akan berakhir ketika Allah berkehendak  untuk menurunkan kembali Imam tersebut sebagai Imam mahdi yang ditunggu.
[20]Donohue & Esposito, Islam dan Pembaharuan, h. 557-558
[21]Donohue & Esposito, Islam dan Pembaharuan, h.  560.
[22]Donohue & Esposito, Islam dan Pembaharuan, h. 562-567
[23]Ali Rahnema, Ali Syari’ati, h. 460-463
                [24]Ali Rahnema, Ali Syari’ati, h. 461.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar