Oleh: Caryono
A.
Pendahuluan
Setiap pembaharuan dalam Islam tidak pernah bisa dilepaskan dari
persoalan sosial-politik dimana Islam tersebut menginjakkan kaki. Ketika Islam
menempati ruang dan waktu yang berbeda maka muncullah interpretasi yang berbeda
pula mengenai Islam itu sendiri. ketika Islam mulai di jamahkan terhadap suatu
pemerintahan atau sebuah kepemimpinan maka masalah-masalah yang muncul misalkan
seperti apakah sistem pemerintahan yang akan digunakan, bagaimanakah posisis
Islam dalam sebuah pemerintahan atau kepemimpinan, dan bahkan siapakan
sebenarnya yang berhak memimpin Islam.
Melihat persoalan di atas kita sudah dapat melihat konsekuensi yang
muncul dengan berbagai corak akibat dari beranika ragamnya interpretasi
terhadap Islam. Kalau kita perhatikan
mulai dari pembaharuan yang terjadi di Mesir sampai dengan Pakistan,
ternyata para tokoh pembaharu mempuanyai cara masing-masing untuk melakukan
pembaharuannya.
Begitupun degan revolusi yang terjadi Iran. Ketika berbicara
revolusi di Iran maka tidak bisa dilepaskah dari beberapa tokoh yang
refolusioner dan mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi keadaan Iran
sekarang. Salah satunya ialah Imam Khomaini dan Ali Syari’ati dimana yang akan
menjadi pemabahasan kita kali ini. Baik mengenai ideologi maupun gerakannya
yang dilakukan untuk revolusi Iran.
B.
Latar Belakang Politik di Iran
Pemikiran Pembaharuan di Iran yang
nantinya akan menjadi suatu gerakan revolusi yang melibatkan para intelektual
dan ulama Iran dalam menggagas ideolgi ke-Islaman yang sangat berpengaruh dalam
perkembangan revolusi Islam di Iran, serta bagamaina gerakan yang berbasis
keagamaan (Islam) dapat membuat suatu tatanan pemerintahan yang memasukan
ajaran dan nilai Islam dalam terbentuknya Negara yang bernama Republik Islam
Iran (RII). Namun, sebelum menjelaskan pemikiran-pemikiran serta tokoh-tokoh
yang berpengaruh dalam gerakan revolusi, serta bagaimana tatanan pemerintah
Republik Islam Iran, maka dalam tulisan ini akan dijelaskan terlebih dahulu
mengenai faktor yang melatarbelakangi terjadinya revolusi. Ada beberapa faktor
yang melatarbelakangi terjadinya revolusi Islam di Iran. Salah satu faktor
terpenting adalah kekuasaan yang berkuasa ketika itu, yakni Dinasti Pahlawi.
Reza Pahlawi dan Muhammad Reza Pahlawi adalah pemimpin dari dinasti tersebut.
Dimulai dengan Syah Reza Pahlawi
yang dilahirkan pada tahun 1866 di daerah Mazandaran dekat Laut Kaspi (Iran).
Di masa kecilnya, ia tidak pernah bersekolah sehingga membuat ia tidak bisa
membaca dan menulis. Namun, di usia empat belas tahun ia masuk Brigade Kosak
Iran (sekolah militer) yang menjadikanya seorang prajurit.[1]
Selama menjadi prajurit, ia sangat serius belajar membaca dan menulis, dan juga
pastinya ia sangat medalami ilmu kemiliteran.[2]
Ketika itu Iran yang dipimpin oleh Dinasti Qajar mengalami kelemahan sehingga
menggugat semangat pembaharuan yang salah satu tokohnya adalah Sayyid
Ziya’uddin Tabatabai. Pada 21 Pebruari 1921 Syah Reza Pahlawi membawa
pasukannya dari Qazwin (barat laut Iran) memasuki Teheran yang dibantu dengan
kekuatan Inggris serta dukungan dari tokoh pembaharu yakni Tabatabai lalu
melakukan kudeta. Dampak dari kudeta tersebut, menjadikan Tabatabai sebagai
Perdana Menteri sementara (22 Pebruari 1921 – awal juni 1922), serta Syah Reza
Pahlawi sebagai Menteri Peperangan (22 Pebruari 1921 – 28 Oktober 1924) dan
Panglima Angkatan Perang Iran.[3]
Pada 28 Oktober 1924, Syah Reza diangkat menjadi Perdana Menteri. Melalui Dewan
Konstitusi, secara resmi Syah Reza diangkat sebagai Syah Iran pada 25 April
1926.[4] Di
masa kekuasaannya, Syah Reza Pahlawi membuat kemajuan besar di Negara Iran.
Muhammad
Reza Pahlawi dilahirkan pada 26 Oktober 1919 di Tehran (Iran). Bersamaan dengan
penobatan ayahnya yakni Syah Reza Pahlavi pada 25 April 1926 sebagai raja
pertama Dinasti Pahlawi, ia pun juga diangkat sebagai putra mahkota pertama.
Dan seorang wanita Prancis bernama Arfa menjadi pengasuhnya dimasa kanak-kanak.
Ia masuk sekolah pada usia enam tahun dan tamat pada tahun 1931. Dan ia pun
dikirim ke Swiss untuk melanjutkan pendidikannya serta didampingi seorang
walinya yang bernama Dr. Moadeb Nafici. Menurut pendapat Syah Mohammad Reza
sendiri seperti yang dikutip dari buku Lintasan Sejarah Iran, ia
mengungkapkan masa belajarnya adalah “masa yang sangat penting bagi saya.
Lingkungan demokrasi Barat membentuk karakter saya sehingga pengaruhnya hanya
kedua setelah pengaruh ayah saya”.[5]
Pada
16 September 1941, Mohammad Reza Pahlawi naik tahta menggantikan ayahnya
menjadi seorang raja di Dinasti Pahlawi. Di awal masa jabatan barunya menjadi
Syah Iran, salah satu langkah awal yang dilakukannya adalah melarang semua
kegiatan partai politik. Pada saat itu ada beberapa partai penting, yakni;
Partai Tudeh, Partai Eradeye Melli, Partai Edalat, Partai Iran, Partai
Demokrasi Azerbaijain dan Kurdistan, dan Partai Demokrasi Iran.[6] Di
masa kekuasaan Syah Muhammad Reza banyak sekali konflik yang terjadi di dalam
tubuh pemerintahan Iran. Perdana Menteri ketika itu Muhammad Mosaddeq yang
mendukung nasionalisai minyak, Banyak mengkritik kebijakan yang dilakukan oleh
Syah dikarenakan Syah ingin meliberalisasikan minyak Iran kepada pihak sekutu
khusus kepada pihak Amerika. Seperti diketahui Amerika banyak membantuk
pembangun Iran pada masa Dinasti Pahlevi. Ketika Mosaddeq (Augustus
1951-Agustus 1953) menjabat sebagai Perdana Menteri, partai-partai politik
mendapatkan kebebasan bergerak kembali.[7]
Namun, Mosaddeq berhasil digulingkan oleh Syah dengan bantuan CIA, dan Perdana Menteri digantikan oleh Jenderal
Fazlollah Zahedi.
Ketika
Perdana Menteri dijabat oleh Asadollah Alam (diangkat 19 Juli 1962), melalui
kabinetnya, Asadollah membuat rencana undang-undang pembentukan dewan provinsi
dan dewan kota. Dalam rencana undang-undang tersebut disebutkan bahwa anggota
dewan tidak mesti disumpah dengan al-Qur’an. Melihat permasalahan ini, ulama di
Qum menentang keras terhadap rancangan undang-undang tersebut.[8]
Imam Khomeini yang merupakan mujtahid tertinggi di kalanga Syi’ah mengirim
surat kepada Perdana Menteri Asadollah yang isinya menentang undang-undang itu
dan untuk pertama kalinya ia mempenringatkan bahaya Zionis dalam pemerintahan.
Imam Khomeini juga mengajak rakyat bangkit menentang pemerintahan yang banyak
melakukan kezaliman terhadap rakyat Iran. Dan pada akhirnya Perdana Menteri Asadollah
menyerah terhadap tuntutan ulama, dan tuntutan rakyat.[9]
Hingga pada suatu saat ketika pembagian tanah di Qum, Syah menyatakan bahwa
“dua pemimpin agama” (Imam Khomeini dan Ayatullah Qumi) adalah “reaksioner
hitam”.[10]
1.
Gerakan yang Memicu Revolusi
Ada
beberapa hal yang memicu pergerakan hebat di kalangan ulama dan rakyat yang
mengkritik keras pemerintahan Syah ketika itu, salah satunya adalah
diterbitkannya artikel yang berjudul “Iran dan Kolonialisme Merah dan Hitam
Persia” di dalam surat kabar Iran Et-Tela’at yang didukung oleh
pemerintah Syah, pada Sabtu sore 7 Januari 1978 menyebutkan tentang seorang
asal India, agen Inggris, yang di Iran mengaku Ayatullah dan Sayyid (cucu
rasul). Dan dikatakan pula Ayatullah tersebut melakukan perilaku menyimpang.
Namun, rakyat tahu bahwa yang dimaksudkan tersebut ialah Imam Khomeini. Menurut
para ulama dan rakyat, Syah telah melakukan fitnah terhadap para ulama, dan ini
menyebabkan kemarahan rakyat. Terkait atas artikel yang dianggap fitnah
tersebut, keesokan harinya rakyat berkumpul di Masjid dan mengumandangkan slogan
“Salawat atas Khomeini” dan “Mampuslah Pemerintah Pahlavi”.[11]
Pada 7 September 1978, Syah memerintahkan para pasukannya untuk menyerang para
demonstran yang bertempat di Lapangan Syuhada’ (sebelumnya bernama Lapangan
Zhalah) yang menewaskan sekitar 4.280 orang.[12]
Melihat
kondisi Iran yang semakin panas dan tidak kondusif lagi bagi Syah untuk
bertahan disana, maka Syah memutuskan untuk pergi meninggalkan Iran pada
tanggal 16 Januari 1979.[13]
Pemerintah semenjak kepergian Syah dipimpin oleh Perdana Menteri Shapour
Bakhtiar, namun kepemimpinan Bakhtiar tersebut ditolak oleh Imam Khomeini.
2.
Pembentukan Dewan Revolusi
Pada
12 Januari 1979 telah dibentuk Dewan Revolusi Islam yang para anggotannya
terdiri dari; Ayatullah Dr. Behesyti, Ayatullah Murtadha Muthahari, Hashemi
Rafsanjani, Ayatullah Musawi Ardabilli dan Ayatullah Dr. Bahonar. Pembentukan
Dewan Revolusi Islam ini dimaklumi dan disetujui oleh Imam Khomeini. Dan pada 1
Pebruari 1979 Imam Khomeini tiba di Iran dan lansung menuju pemakaman Behesyti
Zahra dari pengasingannya di Perancis.[14]
1.
Ali Syari’ati
a.
Biografi Singkat
Ali Syariati di lahirkan pada tanggal 24 November 1933 di sebuah desa keci di Kahak,
sekitar 30 kilometer dari Zabzevar. Dia
terlahir dari pasangan Muhammad Taqi dan Zahra. Ali Syariati adalah anak
pertama yang sekaligus seorang laki-laki dari ketiga saudara permpuannya.
Mereka adalah keluarga yang sangat sederhana, namun kendati demikian keluarga
tersebut mendidik Ali Syari’ati dengan keimanan religious. [15]
Dari sejak pendidikan dasar sampai uneversitas dia tidak dikenal
sebagai seorang yang inteltual bahkan dia di anggap sebagai pemalas karena
tidak terlalu tertarik untuk mendalami materi-materi yang di sajikan dimana
tempat ia belajar. Tetapi dalam konsi seperti itu ia adalah seorang yang rajin
membaca namun apa yang baca bukanlah seperti apa yang dia temuai di tempat ia
belajar setiap hari.[16]
Sekali lagi kendatipun ia dikenal sebagai seorang yang tidak banyak
mencatat prestasi di masa ia menempuh pendidikan, namun ketila memasuki ambang
dewasa sudah sangat banyat buku yang telah selesai dia baca. Dari semenjak dia menempuh pendidikan di
sekolah dasar sampai dia melanjutkan pendidikannya di Paris pada tahun 1959 dia
sudah melahap banyak buku baik dari barat maupun dari timur, yang buku-buku
tersebut bercorak sufisme, filosofis,
sastra dan politik.[17]
Bahkan barang kali dengan kondisi sosial-politik yang dia saksikan sejak kecil
sampai dewasa semakin menumbuhkan keinginannya untuk semakin tertarik terhadap
pemahaman yang memdalam tentang politik. Barang kali ini pulalah yang membuat
semangatnya berkobar sehinnga mengantarkan dia
menjadi seorang pemikir revolusionir yang di kenal sampai saat ini.
b.
Islam “Agama Protes”
Sebenarnya pemahaman
tentang konsep ini merupakan penegasan terhadap pemahan tentang adanya
kepemimpinan akhir zaman yang akan meminpin manusia di seluruh dunia. Ia
merupakan sebuah keyakinan akan adanya sang juru selamat yang akan menjadi
jalan keluar bagi ketertindasan manusia. Ia adalah kenyataan yang akan membawa
Islam kepada puncak kejayaan. Inilah yang di maksud dengan konsep al-intidzar
atau “yang ditunggu”. Dialah seorag Imam pemimpin seluruh umat dunia
menurut kepercayaan meraka adalah sesosok pemimpin yang akan melepaskan
keterbelengguan manusia dari kegelapan yang hal ini merupakan harapan dan
sebuah kenyataan yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat manusia di muka bumi.
Dari pengantar di atas
kita akan mengetahui dari manakah pemikiran Ali Syari’ati akan di mulai dan
apakah tujuannya. Tetapi ternyata Ali Syari’ati tidak sekedar memahami konsep
tersebut sebagai sebuah penantian yang tanpa makna. Ali Syari’ati tidak sekedar
memaknai al-intidzar sebagai sebagai sebuah harapan manusia yang
dimaknai hanya sekedar penatian belaka, tetapi lebih dari itu merupakan upaya
bagaiman manusia mampu mencapai harapan yang ditunggu tersebut.[18]
Mereka yakin bahwa pada saat sekarang ini Imam al-intidzar tersebut
masih dalam keadaan ghaibat.[19]
Dalam keadaan ini maka diperlukan wakil-wakil Imam yang dipilih secara khusus.
Yang berhak memilih hanyalah para Ulama yang benar-benar ahli dalam
bidang fikih secara mendalam dan mengetahui permasalahan umat.[20]
Lebih lanjut Ali Syari’ati menjeskan bahwa dalam masa ini Islam tebagi ke dalam
dua macam, yaitu Islam sebagai budaya dan Islam sebagai Ideologi. Nantinya
Islam yang macam kedua inilah yang akan melahirkan pandangan progresif serta
setapak demi setak akan mengikuti perkembangan modern. Namun Islam sebagai
ideology harus dikaji dari al-Quran dan sejalan dengan kehidupan Nabi.[21]
Ali Syaria’ati memberikan interpretasi
terhadap al-intidzar sebagai panadanga menuju masa dapan. Menurutnya
pandangan terhadap masa depan merupakan salah satu cara agar manusia bisa
keluar dari keterkungkungan dan kebekuan.[22]
Barangkali konsep inilah yang memdasari wacana
gerakan dan pemberontakan Ali Syaria’ti terhadap kepemimpinan Syah Muhammad
Reza Pahlevi. Dalam gerakannya Ali Syari’ati meluncurkan ceramah-ceramah kepada
berbagai kalangan yang dijalankan pada moment-moment tertentu antara tahun
1991-1992.[23]
Revolusi yang diinginkan oleh Ali Syari’ati adalah revolusi politik keagamaan.[24]
C.
Penutup
Demikianlah apa yang
dapat kami sampaikan mengenai pembaharuan di Iran. Dapat disimpulkan bahwa
berdirinya Republik Islam Iran sekarang ini di dasarkan kepada penegakan Negara
Islam dan Hukum Islam, dimana pemerintahan merupakan pemerintahan Tuhan yang
diwakilkan kepada para imam atau para wali sebagai pengganti atau khalifah Tuhan. Maka dengan
inilah Republik Islam Iran bisa dikategorikan ke dalam sistem pemerintahan
“teodemokrasi”.
Selasnujutnya kritik
dan saran kami harapkan dari segenap pembaca. Apabila bisa ditarik sebuah
pengetahuan dari apa yang telah kami paparkan semuga bemamfaat bagi kita semua.
[1] Muhammad
Hasyim Assagaf, Lintasan Sejarah Iran; Dari Dinasti Achaemenia sampai
Revolusi Islam (Jakarta: The Cultural Section of Embassy of The Islamic
Republik of Iran, 2009). h. 440.
[2]
Kemungkinan ia belajar politik di Brigade Kosak Iran. (penulis).
[3]
Muhammad Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 449.
[4]Muhammad
Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 441.
[5]Muhammad
Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 462.
[6]Muhammad
Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 466.
[7]Muhammad
Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 471.
[8]
Qum merupakan kota pusat pergerakan dan kajian Islam di Iran (Penulis).
[9]Muhammad Hasyim
Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 491.
[10]Muhammad Hasyim
Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 495.
[11]Muhammad
Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 547-548.
[12]Muhammad
Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 561.
[13]Muhammad
Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 596.
[14]Muhammad
Hasyim Assagaf. Lintasan Sejarah Iran, h. 605-606.
[15]Ali
Rahnema, Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelaktual Revolusioner.
Penerjemah Dien Wahid (Jakarta: Erlangga, 2002), h. 53-55.
[16]
Ali Rahnema, Ali Syari’ati, h. 59-69.
[17]
Ali Rahnema, Ali Syari’ati, h. 69-73.
[18]
Hal ini dapat di simpulkan karena pada kenyataannya yang saya temukan pandangan
Syari’ati terhadap al-intidzar merupakan interpretasi yang berbeda
dibandingkan dengan pemahaman Syi’ah tradisional (pen.)
[19]
Dalam kepercayaan Syi’ah ghibat itu dimulai kira-kira sejak abad ke-3 H., dan
ghaibat tersebut akan berakhir ketika Allah berkehendak untuk menurunkan kembali Imam tersebut
sebagai Imam mahdi yang ditunggu.
[20]Donohue
& Esposito, Islam dan Pembaharuan, h. 557-558
[21]Donohue
& Esposito, Islam dan Pembaharuan, h. 560.
[22]Donohue
& Esposito, Islam dan Pembaharuan, h. 562-567
[23]Ali
Rahnema, Ali Syari’ati, h. 460-463
Tidak ada komentar:
Posting Komentar