|
A.
Biografi al-Farabi
Abu
Nashar bin Muhammad bin Mohammad bin Tarkham bin Unzalaqah atau yang lebih
dikenal dengan al-Farabi lahir di suatu kota kecil yang bernama Wasij,
wilayah Farab,termasuk kawasan Turkistan pada tahun 257 H/870 M, meninggal
tahun 339 H/ 950 M. kemungkinan adalah seorang Syiah Imamiyah, ayahnya pindah
ke Bagdad ketika menjadi salah seorang pengawal khalifah. Ia belajar filsafat
dari sorang Kristen (kemungkinan dari aliran iskandariyah), dan bersahabat
dengan seorang penterjemah Kristen Aristotelian, Mata ibn Yunus. Ia tinggal
di Bagdad, namun tidak menjadi bagian dari kehidupan istana, birokrasi, atau
kelompok itelektual manapun; ia bekerja sendirian Selama periode ini, ia
banyak membahas masalah-masalah politik dalam karyanya, ihsâ'
al-'ulũm dan Tahshîl al-Sa'âdah, serta menyusun
ringkasan-ringkasan hukum Plato.
Pada
tahun 942 M, ia diundang ke istana Imamiyah dari Dinasti Hamdaniyah (Aleppo).
Pada periode ini ia berpartisipasi dalam kehidupan istana, sejak 942 M hingga
950 M menyusun karya besarnya tentang politik: (1) al-Madinah al-Fadhilah
(Pandangan Utama Penduduk Kota Utama) yang ditulis pada tahun 942-943 di Bagdad
dan Damaskus, (2) al-Siyasah al-Madaniyyah (Pemerintahan Negara), mungkin
disusun 948-949 di Mesir, (3) Fushul al-Madani (Aforisme-Aforisme Negarawan),
mungkin ditulis setelah membaca negarawan karya Plato. Al-Farabi meninggal
karena dibunuh oleh perampok dalam sebuah perjalanan.
B.
Pandangan Politik: Masyarakat, Negara, dan Pemimpin
Dalam
teori asal-usul tumbuhnya kota atau Negara, al-farabi menyatakan bahwa
manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang memiliki kecenderungan alami
untuk bermasyarakat, karena tidak mungkin mampu untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. Adapun tujuan
masyarakat itu menurut al-farabi tidak semata-mata untuk memenuhi keperluan
asas hidup, tetapi juga untuk menghasilkan kelengkapan hidup yang akan
memberikan kebahagian atau kesejahteraan kepada manusia, baik itu material
atau yang bersifat spiritual, tidak hanya di dunia tapi juga di akherat
nanti.
Menurut
Munawir Sjadzali dalam Sirojuddin Aly, al-Farabi memperlihatkan pengaruh
keyakinan agamanya sebagai seorang Islam, di samping tidak terlepas dari
tradisi Plato atau Aristoteles yang mengaitkan politik dengan moralitas dan
akhlak.[1] Sehingga dapat kita ambil
sebuah intisari bahwa masyarakat bukanlah merupakan tujuan, tetapi merupakan
sebuah perantara untuk mencapai tujuan utama, yaitu tingkat kesempurnaan yang
dapat membawa manusia ke kebahagiaan di dunia maupun akherat.
Bentuk
Masyarakat
Al-
Farabi membagi bentuk masyarakat menjadi tiga bagian[2], yaitu
Pemikiran tentang Asal-usul Negara
dan Warga Negara
Menurut
Al-Farabi manusia merupakan warga negara yang merupakan salah satu syarat terbentuknya
negara. Oleh karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan
bantuan orang lain, maka manusia menjalin hubungan-hubungan (asosiasi). Kemudian, dalam proses yang panjang, pada akhirnya
terbentuklah suatu Negara. Menurut Al-Farabi, negara atau kota merupakan
suatu kesatuan masyarakat yang paling mandiri dan paling mampu memenuhi
kebutuhan hidup antara lain: sandang, pangan, papan,
dan keamanan, serta mampu mengatur ketertiban masyarakat, sehingga
pencapaian kesempurnaan bagi masyarakat menjadi mudah. Negara yang warganya
sudah mandiri dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang nyata, menurut
al-Farabi, adalah Negara Utama.
Menurutnya,
warga negara merupakan unsur yang paling pokok dalam suatu negara. Keberadaan
warga negara sangat penting karena warga negaralah yang menentukan sifat,corak serta
jenis negara. Menurut Al-Farabi perkembangan dan/atau kualitas negara
ditentukan oleh warga negaranya. Mereka juga berhak memilih seorang pemimpin negara, yaitu seorang yang paling unggul dan paling sempurna
diantara mereka. Negara utama dianalogikan seperti tubuh manusia yang sehat
dan utama, karena secara alami, pengaturan organ-organ dalam tubuh manusia
bersifat hierarkis dan sempurna.
Ada
tiga klasifikasi utama:
Kota Utama
(al-Madinah al-Fadhilah) [3]
Pada
lingkupnya yang lebih khusus tentang kota ini, al-Farabi sebenarnya
memformulasikan gagasan kota idealnya dengan bertumpu pada dua konsep utama.[4] Pertama, konsep
tentang pemimpin dan yang dipimpin, atau konsep kepemimpinan. Kedua, konsep
kebahagiaan. Penjelasan awal bab khusus tentang al-madinah al-fadilah-nya
dalam kitabnyaAs-Siyasah al-Madaniyah cukup memberikan ketegasan
perihal hal ini, bahwa manusia hidup memerlukan seorang guide (pemimpin, mualim)
untuk menemukan kebahagiaan mereka. Dengan begitu, kerangka dasar yang
membangun gagasan al-Madinah al-Fadilah berangkat dari konsep kepemimpinan,
di mana untuk dapat membentuk sebuah kota yang sedemikian rupa harus mucul
seorang pemimpin yang memiliki keutamaan penuh.
Yamani menyebut pemimpin macam ini
sebagai pemimpin tertinggi atau unqualified ruler, penguasa tanpa
kualifikasi (Yamani, 2002). Yang kemudian dari konsep ini (kepemimpinan)
al-Farabi melilitkan konsep kebahagiaan padanya. Bahwa tujuan manusia
menjalani hidupnya adalah untuk meraih kebahagiaan. Dan untuk menghidupkan
dua konsep utama ini, al-Farabi memasukkan prasyarat-prasyarat perihal hal
ini. Bagaimana misalnya kecenderungan manusia. Bahwa manusia akan selalu
mencoba mengarahkan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan.
Selain itu, manusia juga memiliki
kecenderungan lain berupa keterikatan mereka dalam sebuah komunitas, seperti
yang dikatakan Aristoteles bahwa manusia adalah Zoon Politikon,secara
alamiah mereka tidak akan lepas dari kehidupan sosial dan oleh karena itu
mereka terus berpolitik untuk bertahan hidup. Agar komunitas ini dapat
menjadi sebuah komunitas unggul diperlukanlah seorang pemimpin yang memiliki
keutamaan. Mengenai kepemimpinan. Al-Farabi mengkategorikan orang menjadi
tiga (Yamani, 2002, hal. 61), pemimpin tertinggi, orang yang memimpin dan
dipimpin, dan orang yang sepenuhnya dipimpin. Dan kota utama dipimpin oleh
seorang pemimpin tertinggi. Pemimpin macam itu adalah orang yang sempurna
secara fisik dan mentalnya (Yamani, 2002, hal. 62). Dalam konsep Sunni
derajat pemimpin semacam ini hanya dapat dimiliki oleh seseorang dengan
tingkatan Nabi. Meski dalam sejarahnya, kehidupan politik para Nabi pun pada
umumnya mengalami sebuah kondisi yang dapat dikatakan dilematis, bahkan
hampir semuanya tidak pernah berhasil membentuk sebuah tatanan masyarakat
yang ideal dan dengan kecenderungan memiliki umat yang durhaka.
Sampai pada Nabi terakhir, Muhammad
SAW, konsep kepemimpinan itu seperti baru menemukan bentuknya. Dengan
keberhasilan Muhammad SAW menyatukan masyarakat Arab, agaknya dapat disebut
bahwa apa yang Muhammad SAW bentuk adalah sebuah kota utama di bawah
kepemimpinannya. Dengan begitu pada dasarnya setiap Nabi memiliki potensi
yang sama untuk membangun sebuah kota ideal, dengan kualitas yang mereka
miliki. Dan sekali lagi, satu-satunya Nabi yang berhasil mengaktualkan
potensi itu adalah Muhammad SAW.
Sedang dalam pandangan Syiah,
kualitas pemimpin yang dapat membentuk sebuah kota utama, tidak hanya pada
level para Nabi tetapi juga Imam-imam, yang meski dalam sejarah belum
terbukti bahwa ada seorang Imam yang dapat membentuk sebuah kota utama.
Namun, pada kepercayaan mereka, kota utama itu pada masanya nanti akan dapat
dibentuk oleh Imam Mahdi (Muhammad al-Mahdi al-Muntazar, Imam terakhir
mereka). Menurut al-Farabi, ketika sebuah kota utama terbentuk, tugas para
pemimpin ini adalah mengatur jalannya aktivitas penduduknya agar tetap pada
kapasitas masing-masing. Agar asosiasi yang tercipta pun berjalan harmonis.
Dengan begitu dalam sebuah kota utama, spesialisasi penduduknya memang harus
ada dan seorang pemimpin harus dapat mengatur ini dengan baik. Tujuan kota
utama adalah kebahagiaan. Baik secara individual maupun komunal, kota utama
harus memberikan kebahagiaan bagi penghuninya. Pemimpin dalam kota ini
memiliki tugas untuk membimbing dan menunjukkan warganya pada kebahagiaan
itu.
Syarat-Syarat Pemimpin Negara Utama
Pemimpin negara utama menurut
al-Farabi adalah seorang imam (pemimpin), kepala negara yang memiliki
kelebihan, pemimpin yang dapat membangun negaranya. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan pemimpin maka harus memenuhi 12 kriteria, yaitu:
1. Sempurna seluruh
anggota badannya.
2. Baik daya pemahaman
dan pemikiran, serta kuat daya ingatnya.
3. Tinggi
intlektualitasnya.
4. Pembicaraannya
mudah dimengerti, tidak berbelit-belit.
5. Pecinta pendidikan
dan menyukai pengembangan ilmu.
6. Tidak rakus dalam
hal makanan, minuman, dan wanita.
7. Pecinta kejujuran,
kebenaran dalam jucapan dan prilaku dan membenci kebohongan.
8. Berwibawa, Berjiwa
besar dan berbudi luhur.
9. Tidak memandang
penting kekayaan dan kesenangan duniawi; semuanya itu dianggap sebagai
fasilitas.
10. Pecinta keadilan
dan pembenci perbuatan zalim.
11. Tidak sukar untuk
diajak menegakkan keadilan, tetapi sulit untuk menyetujui tindakan keji dan
kufur.
12. Kuat pendiriannya
(memiliki komitmen tinggi) terhadap hal-hal yang menurutnya harus dikerjakan,
tanpa ada rasa takut atau berjiwa lemah dan kerdil.[5]
DAFTAR
PUSTAKA
Buku-Buku dan Diktat
Aly, Shirojuddin. 2010. Diktat Mahasiswa FISIP UIN Pemikiran
Politik Islam 1. Jakarta : Pribadi.
Black, Antony. 2006. Pemikiran Politik Islam Dari
Masa Nabi Hingga Masa Kini. Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta.
Rosenthal, Franz. 1996. Etika Kesarjaan Muslim:
Dari Al Farabi Hingga Ibn Khaldun. Bandung : MIZAN.
Internet
(http://poetraboemi.wordpress.com/2009/03/28/pemikiran-politik-alfarabi/: diakses pada Jum'at, 3 Desember 2010, pukul 20.00
wib).
(http://koran.republika.co.id/berita/122/Etika_Politik_dalam_Islam: diakses pada
jum'at, 3 Desember 2010, pukul 20.30 wib)
[3] Jejak pemikiran al-Farabi,
tentang kota utama, sebenarnya dapat kita temukan padaRepublic karya
Plato. Istilah dan konsep kota yang digagas keduanya mirip, bahkan dapat
dikatakan identik. Al-Farabi menyebut kota impiannya itu sebagai al-Madinah
al-Fadilah.Sedangkan Plato menyebutnya Kallipolis (kota
yang cantik atau fair), Joseph Losco dan Leonard William, Political
Theory; Kajian Klasik dan Kontemporer, ter. Haris Munandar, Jakarta:
Rajagrafindo Persada, 2005, hal. 144
|
Kamis, 20 Juni 2013
Pemikiran Politik Al Farabi
Jhon Adam Smith – Teori Ekonomi Klasik
Paper Kajian
Sangkakala 12 Juni 2013
Penyaji : Abdul
Harits
TEORI EKONOMI
KLASIK
Aliran klasik muncul pada akhir abad ke 18 dan permukaan
abad ke 19 yaitu di masa revolusi industri dimana suasana waktu itu merupakan
awal bagi adanya perkembangan ekonomi. Pada waktu itu sistem liberal sedang
merajalela dan menurut aliran klasik, ekonomi liberal itu disebabkan oleh
adanya pacuan antara kemajuan teknologi dan perkembangan jumlah penduduk.
Mula-mula kemajuan teknologi lebih cepat dari pertambahan jumlah penduduk,
tetapi akhirnya terjadi sebaliknya dan perekonomian akan mengalami kemacetan.
Kemajuan teknologi mula-mula disebabkan oleh adanya
akumulasi kapital atau dengan kata lain kemajuan teknologi tergantung pada
pertumbuhan kapital. Kecepatan pertumbuhan kapital tergantung pada tinggi
rendahnya tingkat keuntungan, sedangkan tingkat keuntungan ini akan menurun
setelah berlakunya hukum tambahan hasil yang semakin berkurang (low of
diminishing returus) karena sumber daya alam itu terbatas.
Teori-teori
perkembangan dari beberapa pengamat aliran klasik, diantaranya adalah
1. Francois QuesnayJohn Locke
2. Adam Smith
3. David Ricardo
4. Thomas Robert Malthus
5. John Stuart Mill
6. Lord Keynes
7. David Hume
A.
Pendahuluan
John Adam Smith lahir di Kirkcaldy, Skotlandia, 5
Juni 1723 dan
meninggal di Edinburgh, Skotlandia, 17
Juli 1790 pada umur 67
tahun , adalah seorang filsuf berkebangsaan Skotlandia yang menjadi pelopor ilmu ekonomi modern.
Karyanya yang terkenal adalah buku An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth
of Nations (disingkat The Wealth of Nations) adalah buku pertama yang
menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa serta
dasar-dasar perkembangan perdagangan
bebas dan kapitalisme. Adam Smith adalah salah satu pelopor sistem
ekonomi Kapitalisme. Sistem ekonomi ini muncul pada abad 18 di
Eropa Barat dan pada abad 19 mulai terkenal di sana.
Kemakmuran Negara (Wealth of Nations) dan yang lebih kecil
pengaruhnya Teori Moral
Sentimen, telah menjadi titik awal untuk segala pertahanan atau kritik atas
bentuk kapitalisme yang terpenting dalam tulisan Marx dan
ekonomi manusia. Karena kapitalisme laissez-faire seringkali dihubungkan dengan keegoisan tak
terkontrol, ada gerakan baru yang menekankan filosofi moral Smith, dengan
fokus simpati kepada seseorang.
Ada beberapa kontroversi tentang keaslian Kemakmuran Negara Smith; beberapa orang menyangkal hasil
kerjanya hanyalah tambahan biasa kepada kerja pemikir seperti David
Hume dan Baron de Montesquieu. Dan, banyak teori-teori Smith hanya
menggambarkan trend sejarah menjauh dari mercantilisme, menuju
perdagangan-bebas, yang telah berkembang selama beberapa dekade, dan telah
memiliki pengaruh yang nyata dalam kebijakan pemerintah. Namun begitu, buku ini
mengorganisasi pemikiran-pemikiran mereka secara luas, dan tetap menjadi suatu
buku yang paling berpengaruh dan penting dalam bidangnya sekarang ini.
Sangat sedikit
yang diketahui tentang Adam Smith selain dari apa yang bisa dideduksi dari
karya-karyanya yang sudah diterbitkan. Semua paper pribadinya sudah dihancurkan
setelah kematiannya. Dia tidak menikah dan sepertinya mempertahankan hubungan
dekat dengan ibunya, di mana dia tinggal setelah pulang dari Perancis dan
mendahului kematian Smith hanya 6 tahun berselang. Kesaksian kontemporer
menjelaskan Smith sebagai eksentrik tetapi intelektual yang dermawan dan ramah,
kepikunan yang komikal, dengan kebiasaan yang berulang tentang pidato dan
memberi senyuman yang "ramah tanpa ekspresi.” Kesabarannya disebut
memiliki nilai penting dalam pekerjaannya sebagai administrasi Glasgow. Setelah
kematiannya ditemukan bahwa sebagian besar pendapatannya disumbangkan secara
rahasia olehnya.
Telah terjadi
beberapa debat terhadap pandangan relijius dari Adam Smith. Ayahnya memiliki
ketertarikan besar pada Kekristenan dan merupakan sayap moderat
dari gereja Skotlandia (gereja nasional di Skotlandia
sejak 1690). Smith mungkin pergi ke Inggris untuk meniti karier di dalam Gereja Inggris:
pernyataan ini kontroversial dan bergantung pada status eksibisi Snell. Di
Oxford, Smith menolak Kristen dan dipercaya kalau dia pulang ke Skotlandia
sebagai Deis.
Ekonom Ronald Coase, bagaimanpun, telah menantang pandangan kalau Smith
merupakan seorang Deist, menyatakan bahwa, ketika Smith mungkin dihubungkan
sebagai "Arsitek Besar
Alam Semesta", sarjana lain telah "jauh melebih-lebihkan perluasan
sampai di mana Adam Smith telah memasuki sebuah keyakinan dalam sebuah Tuhan
Pribadi". Dia mendasari analisis ini dari sebuah remark dalam The
Wealth of Nations di mana Smith menulis kalau keingintahuan umat
manusia tentang "fenomena luarbiasa dari alam" seperti
"generasi, kehidupan, pertumbuhan dan kematian dari tanaman dan
binatang" telah membuat manusia untuk "memasukkannya dalam akal sehat
mereka". Coase mencatat observasi Smith di mana: "Takhayul
pertama-tama ditujukkan untuk memenuhi keingintahuan, dengan menghubungkan
semua penampakan menakjubkan pada agensi tentang Tuhan". Bagaimanapun,
kepercayaan ini tidak bertentangan dengan Deisme, sebuah sistem kepercayaan
yang memegang ide sekptis tentang Tuhan pribadi.
C. Karya
Tidak lama
sebelum kematiannya Smith menghancurkan nyaris semua manuskrip miliknya. Pada
tahun terakhirnya dia sepertinya telah merencanakan dua keterilmuan besar, satu
dalam teori dan sejarah hukum dan satu dalam ilmu sains dan kesenian. Terbitan
setelah kematiannya Essays on Philoshopical Subjects (1795)
mungkin berisi bagian dari apa yang akan menjadi pembelokan selanjutnya.
The Wealth of
Nations menjadi berpengaruh karena telah dengan
keras membuat bidang ekonomi dan perkembangannya ke dalam disiplin yang
sistematis dan berdiri sendiri. Dalam dunia barat, masih dibincangkan kalau ini
merupakan buku paling berpengaruh dalam subyek tersebut yang pernah
diterbitkan. Ketika buku tersebut menjadi manifestasi klasik melawan merkantilisme (teori di mana cadangan besar dari logam mulia merupakan keharusan bagi suksesi ekonomis), muncul
pada tahun 1776, ada kesadaran kuat untuk perdagangan
bebas baik di Inggris maupun Amerika.
Perasaan baru ini telah dilahirkan dari kesusahan keadaan ekonomi dan
kemiskinan yang diakibatkan oleh Perang kemerdekaan Amerika. Bagaimanapun, pada
saat publikasinya, tidak semua orang lantas yakin pada kelebihan perdagangan
bebas: publik dan parlemen di Inggris masih memakai sistem merkantilisme untuk
beberapa tahun kedepannya.
The Wealth of
Nations juga menolak pernyataan Psiokrat dalam pentingnya lahan, malah, Smith percaya bahwa
buruh merupakan proritas tinggi, dan pembagian buruh akan
berakibat pada kenaikan signifikan pada produksi. Smith memakai contoh dengan
pembuatan jepitan. Satu pekerja bisa membuat duapuluh pin sehari. Tapi jika sepuluh
orang dibagi menjadi delapanbelas langkah yang diperlukan membuat sebuah
jepitan, mereka bisa membuat 48.000 jepitan dalam sehari. Nations sangat
sukses, dan faktanya, hal ini mengakibatkan pengosongan sekolah ekonomi yang
lebih tua dan ekonom lebih muda, seperti Thomas Malthus dan David Ricardo, fokus dalam
memperbaiki teori Smith ke dalam apa yang akan dikenal sebagai ekonomi klasik. Baikekonomi modern dan,
secara terpisah, ekonomi Marxisan bergantung
sekali pada ekonomi klasik. Malthus mengembangkan ruminasi Smith dalam overpopulasi, sedangkan Ricardo percaya pada "hukum besi upah" - di
mana ledakan populasi bisa mencegah upah melewati tingkat yang rasional. Smith
memberi solusi pada kenaikan upah dengan kenaikan produksi, pandangan yang
dianggap lebih akurat sekarang ini.
Satu dari poin
utama The Wealth of Nations adalah pasar bebas, ketika
penampilannya kacau dan tidak teratur, sebenarnya dipandu untuk membuat nilai
yang benar dan bermacam barang oleh "tangan-tangan
tak terlihat" (sebuah
imej yang dipakai Smith dalam Teory of Moral Sentiments, tetapi
pertama kali dipakai dalam esai miliknya, "Sejarah Astronomy"). Jika
sebuah kelangkaan produk terjadi, misalnya, maka harganya naik, membuat marjin
keuntungan yang membuat insentif bagi yang lain untuk masuk ke produksi
tersebut, dan mengatasi kelangkaan. Jika terlalu banyak produsen yang msauk ke
pasar, kompetisi yang meningkat di antara para manufaktur dan
kenaikan penawaran akan menurunkan harga di produk tersebut sampai titik di
mana harga produksinya, harga natural. Bahkan jika
keuntungan sampai kosong pada "harga natural", maka akan ada insentif
untuk memproduksi barang dan jasa, dan semua ongkos produksi, termasuk
kompensasi untuk buruh pemilik, juga dimasukkan dalam harga barang jual. Jika
harga jatuh di bawah keuntungan kosong, produsen akan keluar dari pasar, jika
mereka berada di atas keuntungan kosong, produsen akan masuk ke pasar. Smith
percaya kalau motif manusia seringkali egois dan tamak, kompetisi
dalam pasar bebas akan bertujuan menguntungkan masyarakat seluruhnya dengan
memaksa harga tetap rendah, di mana tetap membangun dalam insentif untuk
bermacam barang dan jasa. Selain itu, dia cemas akan pebisnis dan melawan
formasimonopoli.
Smith dengan
keras menyerang pembatasan antik oleh pemerintah di mana dia pikir batasan
tersebut memundurkan ekspansi industri. Faktanya, dia menyerang hampir semua
bentuk intervensi pemerintah dalam proses ekonomi, termasuk tarif, berpendapat
bahwa hal tersebut membuat inefisiensi dan harga tinggi pada jangka panjang.
Teori ini kemudian dikenal dengan "laissez-faire", yang berarti
"biarkan mereka lakukan", memengaruhi legislastif pemerintah pada
tahun-tahun berikutnya, khususnya selama abad ke 19. (Bagaimanapun dia tidak
melawan pada pemerintahan. Smith menganjurkan edukasi publik bagi orang dewasa
miskin, sistem institusional yang tidak non laba untuk industri swasta, judisiari,
dan pasukan berdiri).
D. Pengaruh
The Wealth of
Nations salah satu usaha terawal untuk
mempelajari bangkitnya industri dan perkembangan ekonomi di Eropa, merupakan
pengawal ke disiplin akademis modern dari ekonomi. Ini memberi salah satu
rasional intelektual paling dikenal untuk perdagangan bebas dan kapitalisme, memengaruhi secara luas tulisan ekonom selanjutnya.
Ada beberapa
kontroversi atas perluasan dari keaslian Smith dalam Wealth of Nations. Beberapa
berpendapat kalau karya tersebut menambah hanya sedikit dari ide yang sudah ada
sebelumnya dari Anders Chydenius (The National Gain 1765), David Hume dan Baron de Montesquieu. Sebenarnya, banyak dari teori Smith hanya menjelaskan
tren sejarah dari merkantilisme dan menuju perdagangan bebas di mana telah
dikembangkan selama beberapa dekade dan memiliki pengaruh signifikan dalam
kebijakan pemerintah. Bagaimanapun, karya Smith merangkum ide mereka secara
komperhensif, dan juga menjadi salah satu buku paling berpengaruh dan penting
saat ini dalam bidang ekonomi.
Smith berada
di peringkat 30 di Daftar orang paling berpengaruh-nya Michael H. Hart.
Dari 13 Maret
2007 ke sana potret Smith muncul dalam £ 20 baru. Dia merupakan orang Skotlandia pertama
yang ditampikan dalam mata uang tersebut oleh Bank of England. Gambar dari nota ini tersedia di website Bank of
England.
Pada 25 Juni
2006, di mana Warren Buffet mengumumkan
kalau dia akan menyumbangkan kekayaannya ke The Bill and Melinda Gates Foundation, dia dihadiahi salinan dari Wealth of Nations Adam Smith
oleh Bill
Gates. Adam Smith merupakan insipirasi dari grup
konservatif dari Missouri, Adam Smith Foundation
E. Karya Besar
ü The Theory of Moral Sentiments (1759)
Langganan:
Postingan (Atom)