Oleh: Nova Arie Wibowo
Bangsa-bangsa barat telah lama ini memang menjadi kiblat bagi bangsa lainnya, baik itu dari segi keilmuan, maupun segala kemajuan teknologinya. Akan tetapi bukan berarti bahwa bangsa barat tersebut belum pernah mengalami masa kegelapannya, atau yang kita kenal dengan istilah dark age. masa kegelapan di eropa ini terjadi akibat pengarruh besar sekte-sekte agama yang mencoba menguasai kekuasaan, khususnya kekuasaan romawi pada saat itu.
Tapi bukan berarti masa kegelapan itu terus berjalan dengan
sempurna. Ada masa yang dikenal dengan peradaban renaissance, yaitu suatu masa
reformasi bangsa-bangsa eropa terhadap kesewenang-wenangan agama, banyak tokoh
yang dilairkan di masa ini, seperti heggel, martin luther, dan Machiavelli yang
akan kita bahas bersama mengenai pemikirannya. Machiavelli seorang pemikir
Italia yang lahir pada masa dimana negaranya terpecah-pecah lima bagian yang
kekuasaannya diduduki oleh sekte-sekte ortodoks,. Seperti Venezia, Naples,
Roma, Florence dan Milan.
Awalnya Machiavelli berpikir kenapa Negara harus
terpisah-pisah dan tidak menjadi suatu kesatuan yang utuh? Itu hanya akan
menimbulkan suatu pertentangan dan tidak akan menguatkan kekuasaannya. Selain
itu ia juga berpendapat bahwa seorang penguasa harus mempunyai aspek filosofi
seperti rubah dan singa. Di satu sisi ia cerdik dalam mengambil keputusan, dan
dia juga harus tegas dan ditakuti seperti seekor singa. Pemikiran ini
sangaterat sekali dengan pemikiran plato mengenai philosopher king. Machiavelli
sangat menjunjung tinggi kekuasaan yang berlandaskan persatuan dan kesatuan,
sehingga asas-asas yang menjadi tembok perbedaan haruslah disamarkan, atau
dengan kata lain harus didikesampingkan.
Maksud dari pemikirannya ini ia berpendapat bahwa agama
bukanlah suatu alat untuk membuat kekuasaan baru, melainkan itu hanyalah
sebagai identitas pribadinya, bukan di lingkungannya. Sehingga ia menentang
mengenai kebijakan pemerintah romawi yang senang sekali menggunakan tentara
bayaran dalam peperangan, karena menurutnya itu hanya akan menjdaikan boomerang
bagi negaranya. Aspek solidaritas dan loyalitas hanya akan terbenam bagi warga
negaranya sendiri, dan hal itu harus dipengaruhi oleh fasisme dari sang
penguasa. Dengan kata lain masalah keamanan nasional janganlah bergantung pada
pihak-pihak diluar garis nasionalismenya.
Hal
ini dikarenakan pemikiran Machiavelli berdasarkan pada analisa historis dan
praktis, sesuai dengan kenyataan yang ia alami dan amati. Karena kedekatannya
dengan alam nyata (real world) tentang politik dan manusia, pemikirannya banyak
dianut oleh pemimpin-pemimpin besar dunia seperti Mussolini, Napoleon
Bonaparte, Stalin, Lenin, Hitler. Resep yang praktis dan tidak terlalu teoritis
dalam mencari dan mempertahankan kekuasaan adalah hal yang mudah untuk
diimplementasikan. Inilah yang menjadi keunggulan dari pemikiran seorang
Machiavelli. Oleh karena itu, pemikiran machiavelliyang mampu memberikan tembok
pemisah antara agama dan Negara mampu membawa eropa keluar dari masa
kegelapannya.
Pertanyaan
berikutnya mucul ketika salah satu bagian dunia khususnya timur tengah, apakah
mereka sedang mengalami masa dimana masa kegelapan itu mucul? Apakah pemikiran
semacam Machiavelli ini mampu membawa timur tengah lepas dari permasalahan
ideology mereka? Lalu pertanyaan utama yang akan muncul apakah isi kepala dari
Machiavelli ini mampu membawa dunia dalam perdaban perdamaian yang kita
cita-citakan seusai PDII? Mari kita diskusikan bersama…….!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar