Kamis, 20 Juni 2013

Pemikiran Machiavelli Terhadap Masa Renaissance


Oleh: Nova Arie Wibowo
Bangsa-bangsa barat telah lama ini memang menjadi kiblat bagi bangsa lainnya, baik itu dari segi keilmuan, maupun segala kemajuan teknologinya. Akan tetapi bukan berarti bahwa bangsa barat tersebut belum pernah mengalami masa kegelapannya, atau yang kita kenal dengan istilah dark age. masa kegelapan di eropa ini terjadi akibat pengarruh besar sekte-sekte agama yang mencoba menguasai kekuasaan, khususnya kekuasaan romawi pada saat itu.
Tapi bukan berarti masa kegelapan itu terus berjalan dengan sempurna. Ada masa yang dikenal dengan peradaban renaissance, yaitu suatu masa reformasi bangsa-bangsa eropa terhadap kesewenang-wenangan agama, banyak tokoh yang dilairkan di masa ini, seperti heggel, martin luther, dan Machiavelli yang akan kita bahas bersama mengenai pemikirannya. Machiavelli seorang pemikir Italia yang lahir pada masa dimana negaranya terpecah-pecah lima bagian yang kekuasaannya diduduki oleh sekte-sekte ortodoks,. Seperti Venezia, Naples, Roma, Florence dan Milan.
Awalnya Machiavelli berpikir kenapa Negara harus terpisah-pisah dan tidak menjadi suatu kesatuan yang utuh? Itu hanya akan menimbulkan suatu pertentangan dan tidak akan menguatkan kekuasaannya. Selain itu ia juga berpendapat bahwa seorang penguasa harus mempunyai aspek filosofi seperti rubah dan singa. Di satu sisi ia cerdik dalam mengambil keputusan, dan dia juga harus tegas dan ditakuti seperti seekor singa. Pemikiran ini sangaterat sekali dengan pemikiran plato mengenai philosopher king. Machiavelli sangat menjunjung tinggi kekuasaan yang berlandaskan persatuan dan kesatuan, sehingga asas-asas yang menjadi tembok perbedaan haruslah disamarkan, atau dengan kata lain harus didikesampingkan.
Maksud dari pemikirannya ini ia berpendapat bahwa agama bukanlah suatu alat untuk membuat kekuasaan baru, melainkan itu hanyalah sebagai identitas pribadinya, bukan di lingkungannya. Sehingga ia menentang mengenai kebijakan pemerintah romawi yang senang sekali menggunakan tentara bayaran dalam peperangan, karena menurutnya itu hanya akan menjdaikan boomerang bagi negaranya. Aspek solidaritas dan loyalitas hanya akan terbenam bagi warga negaranya sendiri, dan hal itu harus dipengaruhi oleh fasisme dari sang penguasa. Dengan kata lain masalah keamanan nasional janganlah bergantung pada pihak-pihak diluar garis nasionalismenya.
Hal ini dikarenakan pemikiran Machiavelli berdasarkan pada analisa historis dan praktis, sesuai dengan kenyataan yang ia alami dan amati. Karena kedekatannya dengan alam nyata (real world) tentang politik dan manusia, pemikirannya banyak dianut oleh pemimpin-pemimpin besar dunia seperti Mussolini, Napoleon Bonaparte, Stalin, Lenin, Hitler. Resep yang praktis dan tidak terlalu teoritis dalam mencari dan mempertahankan kekuasaan adalah hal yang mudah untuk diimplementasikan. Inilah yang menjadi keunggulan dari pemikiran seorang Machiavelli. Oleh karena itu, pemikiran machiavelliyang mampu memberikan tembok pemisah antara agama dan Negara mampu membawa eropa keluar dari masa kegelapannya.
Pertanyaan berikutnya mucul ketika salah satu bagian dunia khususnya timur tengah, apakah mereka sedang mengalami masa dimana masa kegelapan itu mucul? Apakah pemikiran semacam Machiavelli ini mampu membawa timur tengah lepas dari permasalahan ideology mereka? Lalu pertanyaan utama yang akan muncul apakah isi kepala dari Machiavelli ini mampu membawa dunia dalam perdaban perdamaian yang kita cita-citakan seusai PDII? Mari kita diskusikan bersama…….!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar